Powered By Blogger

Jumat, 02 Mei 2025

Kia Ruwed dan Kiai Senggreng

 Dongeng legenda dari wilayah Somagede, Banyumas, dengan tema rajin beribadah dan latar kisah tentang prajurit Pangeran Diponegoro.


Judul: Legenda Kyai Ruwed dan Kyai Senggreng: Santri dari Somagede

Pada masa Perang Jawa, pasukan Pangeran Diponegoro menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Banyumas. Dalam Babad Banyumas Wirjaatmadjan, disebutkan bahwa perang juga meletus di Purwareja. Pasukan Banyumas kalah dan mundur ke barat, membangun benteng di Lemahputih, Sokawera.

Pasukan Diponegoro, yang dipimpin oleh Pangeran Suryoatmojo, putra Pangeran Diponegoro, bersama para pemimpin prajurit seperti Tumenggung Danukusumo, Kolopaking, dan Tambakboyo, mengejar musuh hingga ke Somagede, dan menetap di sana menanti hari Sabtu Pahing—hari yang dianggap sial oleh orang Banyumas.

Namun sebelum Sabtu Pahing tiba, terdengar kabar bahwa pasukan besar dari Keraton Surakarta, dipimpin Pangeran Kusumoyudo, telah tiba di Mandiraja. Panik dan tak siap menghadapi kekuatan besar, pasukan Diponegoro membubarkan diri. Mereka melarikan diri—ke selatan, ke perbukitan, dan ke utara, menyeberangi Sungai Serayu.

Suasana cukup mencekam saat itu. Suara bersahutan untuk berlarian kesana kemari, “Ayo! Kita menyelamatkan diri.” Mereka betul-betul berhamburan menyelamatkan diri. 

Namun, di antara para prajurit yang melarikan diri itu, dua orang justru memilih menetap. Mereka adalah dua sahabat karib—Sastro Dinoyo dan Wirya Sentika. Keduanya telah jatuh hati pada dua gadis Somagede, kakak-beradik bernama Ranti dan Kinasih.

Suatu malam di pinggir hutan Somagede. 

Sastro: “Wiry, aku tak ingin pergi. Hatiku sudah tertambat pada Ranti.”

Wirya: “Aku pun sama, Sastro. Kinasih membuatku lupa pada pedang. Tapi... bagaimana jika kita dikejar Belanda?”

Sastro: “Kita harus berubah. Kita bukan lagi prajurit. Kita jadi rakyat. Kita ganti nama, hidup seperti orang desa.”

Wirya: “Lalu nama apa yang akan kau pakai?”

Sastro: “Mulai sekarang, panggil aku... Ruwed.”

Wirya (tertawa): “Dan aku... Senggreng. Nama desa sejati!”


Keduanya pun menyamar sebagai santri keliling, mengajar mengaji di surau-surau, membaur dengan warga. Meski tak lagi memanggul senjata, mereka rajin beribadah dan berdakwah di wilayah ini. Surau kecil di pinggir sawah menjadi saksi sujud panjang mereka di tiap malam.

Waktu berlalu. Keduanya menikahi Ranti dan Kinasih. Ruwed mengajarkan ilmu agama, menjadi guru ngaji di desa. Sementara Senggreng menjadi penengah warga, bijaksana dan disegani, hingga diangkat menjadi kepala desa.


Suatu sore, di beranda rumah Ruwed

Ruwed: “Kita pernah jadi prajurit. Tapi kini, kita pejuang iman. Ini pun jihad, bukan?”

Senggreng: “Benar, sahabatku. Dari medan perang, kita dibawa Tuhan ke medan dakwah.”

Hingga kini, masyarakat Somagede dan Sokawera masih mengenang dua tokoh ini. Mereka dikenal sebagai Kyai Ruwed dan Kyai Senggreng. Konon, keturunan Kyai Senggreng masih menjadi pemimpin desa. Sedangkan keturunan Kyai Ruwed menjadi guru agama dan ulama yang dihormati.